ABANG TOMATO

It was an ordinary day. I was caught up in my routine when something made me think of you. I paused for a moment and smiled. It was no longer an ordinary day.

Sunday, April 03, 2005

The Ultimate "WAWAW"

"Orang betawi memang kagak ada matinye."
Memiliki teman seorang keturunan warga betawi rasanya sangat istimewa. Ramah, lugas, dan humoris. Gak ada matinye.
Saya punya seorang teman kuliah, seorang keturunan betawi kebon sirih. Ketua angkatan di jurusan kita, yang saking semangatnya beraktivitas dan bergaul sampai pernah hampir drop out.
Tipikal betawi yang memang humoris membuat dia pernah hampir saja gagal dalam sebuah misi yang penting dalam hidupnya.
Alkisah, dia sedang kesengsem dengan teman satu jurusan. Gadis manis berkulit putih, bertubuh agak montok dan rambut yang keriting telah menawan hatinya.Dengan tingkat keyakinan diri yang tinggi dia mulai melakukan pendekatan. pedekate-lah.
Tipikal metode yang digunakannya adalah tetap mengandalkan humor-humornya yang memang sangat orisinil.
Tapi jangan sebut nama abang kalau tidak bisa menjahilinya.Abang dan beberapa teman yang dipercayanya, melaksanakan misi tantangan rahasia baginya.
Tanpa setahu dia, kami bocorkan semua jokes dan lawakan yang dia punya, sebelum sempat dia menceritakan kepada sang gadis.

Dik, tahu lawakan ini nggak?....
Udah tahu A...(panggilan sayang buat si betawi, Aa. Kami sendiri biasanya menyebutnya babeh.)
Kali lain, sebelum dia mulai menceritakan kepada sang gadis, sang gadis dengan gaya polos lugu malah menceritakan lawakan yang telah dirancang oleh si babeh ini. Pura-pura tidak tahu.
Dik tahu lawakan yang ini nggak?
Udah tahu Aa, dijurusan tadi temen2 pada cerita.
Setelah berkali-kali terbentur pada masalah yang sama tanpa tahu siapa yang membocorkan semua lawakannya, dia pasang strategi.
Kali terakhir dia cerita, dia pancing sang gadis dengan pertanyaan.
Adik tahu tidak dengan metode wawaw?
Nggak Aa...gimana tuh?
Ah yang bener. masa sih nggak tahu....(sinar kemenangan sudah terlihat dimatanya)
Bener Aa...gimana sih....ceritain dong...!
Ya udah. Jadi gini nih...
Dibukanya mulutnya menyiapkan bunyi huruf a.
Disiapkannya telapak tangannya di depan mulutnya.
Ditepuk-tepuknya mulutnya sembari disebutnya huruf a dengan nada datar.
WAWAWAWAWAWAWAW...
gitu dik....

Emang betawi kagak ade matinye...

Salam manis buat Ir.Toha Saleh, Msc dan Ir Marlinda Rusli, teman kuliah, ketua angkatan, teman tongkrongan, teman pecinta alam KAPA FTUI, Kepala salah satu lembaga riset di Fakultas sipil UI, yang telah dikaruniai anak dari perkawinan mereka. Satu dari sedikit putra betawi cerdas yang pernah saya kenal. Maaf kalau bilang sedikit, Beh.

Thursday, March 24, 2005

Setidaknya Bilang Dong.....!!

Apakah karena saya yang terlalu keras ? Kurang fleksibel?
Atau memang semudah itu untuk melupakannya?
Berapa kali kita harus mengulang mengingatkan?
Memberinya kesempatan?
Atau menyerahkan pilihan sesukanya pada mereka?
Seriuskah mereka?
atau memang saya ini dari awal dianggap gampangan? pasti toleran?
atau saya yang terlalu banyak berharap?

Bolehkah saya bilang kamu brengsek?

nb: pertanyaan ini buat mereka yang suka melupakan/membatalkan agreement meeting tanpa konfirmasi. Juga kepada mereka yang suka dengan seenaknya menunda/melupakan pembayaran hutang.

Thursday, March 17, 2005

Duduk dan berpikir Vs Bangkit dan bertindak

Dulu saya pernah membaca di majalah saku Readers digest tentang kebingungan seseorang dengan segala hal yang telah dilakukannya. Disitu dituliskan bahwa dia merasa telah mencoba melakukan yang terbaik yang mampu dia lakukan, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang dia harapkan. Bahkan bagi beberapa orang yang mengenalnya, dia merasa mendapatkan pandangan bahwa orang-orang tersebut melihatnya sebagai sebuah kegagalan.

Dia kemudian berdiskusi, konsultasi dan curhat ke beberapa temannya. Dia mendapatkan pandangan yang berbeda dengan pola dasar berpikirnya bahwa segala sesuatu harus didapatkan dengan kerja keras, tindakan yang nyata, action yang segera.

Saat itu dia mendapatkan saran untuk berhenti sejenak, menyediakan waktu untuk merenung dan berpikir. Merencanakan apa yang akan dilakukannya. Mempertimbangkan banyak hal sebelum melakukannya, dan menyiapkan skenario-skenario untuk mengakomodir segala kemungkinan yang terjadi.

Dalam digest itu saya membaca , dia merasa bahwa saran tersebut memberikan hasil yang lebih baik, dan bahwa dia menjadi lebih yakin atas apapun yang akan dilakukannya. Karena dia telah mempertimbangkannya. Karena dia telah memikirkan sebelum melakukannya.
Sebagian orang yang melakukan persiapan perencanaan yang matang memang mendapatkan bahwa pekerjaan akan dapat dilakukan dengan mudah, cepat, efektif dan efisien.
Salut buat dia yang mendapat manfaat dari duduk dan berpikir.

Namun bagaimana dengan mereka-mereka yang tetap tidak dapat melakukannya? Mereka-mereka yang memiliki keterbatasan wawasan, mereka-mereka yang tidak memiliki waktu untuk sejenak duduk dan berpikir, karena badan telah lelah didera pekerjaan rutin seharian. Mereka yang tidak memiliki fasilitas, bantuan serta uluran tangan untuk dapat melakukannya?

Hard Work dan Smart Work sejak dulu selalu menjadi pertentangan yang dilematis bagi mereka-mereka yang terpuruk oleh pengalaman kegagalan berulang. Satu kali buat mereka adalah kesalahan tak disengaja dan dapat diperbaiki dengan mudah. Dua kali adalah kelalaian yang dapat diperbaiki dengan ketekunan dan kehati-hatian, tiga kali adalah kesialan karena ada faktor lain yang benar-benar diluar dugaan. Lalu duduk dan berpikir dilakukannya. Analisa permasalahan, evaluasi.

Empat kali, lima kali, dan seterusnya? Apakah dia harus berhenti untuk melakukannya? Bagaimana bila hal tersebut adalah hal yang "harus", saya ulangi, "harus" dilakukannya?

Saya teringat dengan spirit of salesmanship (mungkin karena saya adalah wirausahawan kecil-kecilan) , if one door stays close when you knock it, knock on another thousand doors. Can we do it?

Ketika hati dan otak tidak lagi dapat mencerna apa dan mengapa kegagalan atas sebuah tindakan dapat terjadi, maka saran-saran dan bahkan bantuan yang mungkin bermanfaat bagi sebagian orang, tidak pernah terlihat sebagai sebuah jalan keluar bagi yang lain. Bagaimana menurut anda?

Dalam era global kapitalisme yang serba cepat dan sangat kompetitif ini, mungkin Duduk dan berpikir Vs Bangkit dan berdiri, akan saya berikan lawan baru, yaitu Vs "Get out dan Get lost you looser".




tulisan ini saya buat karena pengalaman kegagalan saya dalam banyak hal. sebagai anak bangsa yang tidak dapat keluar dari perilaku
bejat korupsi bangsa ini; sebagai wirausaha yang telah mengetuk seribu satu pintu....

Friday, February 25, 2005

EUTHANASIA

Euthanasia

Kepada yang masih bisa dihormati,
Bapak-bapak bangsa di Departemen Sehat


Bersama surat ini kami memohon kepada Departemen Sehat untuk mempertimbangkan harapan saya sebagai anak bangsa, agar kiranya Departemen Sehat, berdasarkan analisa kondisi kesehatan, melaksanakan Euthanasia bagi Pak Soe, bapak bangsa kami.
Dari kondisi beliau yang sudah cukup jelas dinyatakan oleh Departemen Sehat telah mengalami kerusakan otak permanen, dan resiko penularan kerusakan otak yang sama dapat menjangkiti seluruh bapak-bapak bangsa yang lain, maka permohonan ini kami sampaikan.
Sebagai generasi muda yang sangat memperhatikan kesehatan, terutama otak, maka kami juga khawatir bahwa kerusakan otak seperti yang dialami beliau akan menular dan menurun secara permanen kepada generasi-generasi berikutnya.
Sudah begitu banyak contoh dimana kerusakan yang bukan hanya otak juga didiagnosis memberikan pengaruh kepada otak, dan juga sebaliknya, dimana kerusakan jaringan tubuh yang lain juga berasal dari otak. Contohnya Pak Nurdin.
Penyakit yang dideritanya didiagnosa berasal dari lumbung sembako yang tidak sehat, karena banyak sekali tikusnya. Saat beliau didiagnosa seharusnya kita juga melakukan pembersihan hama-hama tikus yang ada di lumbung tersebut, agar bapak-bapak bangsa dan calon-calon bapak bangsa lainnya tidak mengalami penyakit yang sama. Bayangkan apabila kita atau anak-anak kita generasi berikutnya memakan sembako yang sudah dikencingi oleh hama tikus. Leptospirosis berjangkit dimana-mana. Merusak otak dan mematikan. Apalagi kalau kita makan sembako yang sudah menjadi sisa-sisa makanan para tikus itu.

Sudah cukup rasanya bapak bangsa kami menikmati hidupnya yang sejahtera. Kami sebagai generasi muda pun tidak melupakan jasa-jasanya dulu yang katanya telah mengangkat kondisi ekonomi bangsa ini, walaupun sekarang tidak kelihatan wujudnya bagi kami.

Jadi, dengan tulus dan pengharapan atas hal-hal yang lebih baik, maka kami mengajukan usulan ini. Kiranya bapak-bapak di Departemen Kesehatan juga menerima dan berani mengambil langkah-langkah atas usulan kami ini.

Saturday, February 05, 2005

MATI RASA....

Ketika berdua tak lagi berarti bersama
ketika berpegangan bukan berarti terikat
ketika sejalan bukan berarti searah

saat itulah aku harus mundur
saat itulah aku harus berpisah

ketika bersinar bukan berarti cerah
ketika berbunga tak harus segar
ketika senyum tak perlu berarti bahagia

ketika gembira dan sedih tak bisa ku tunjukkan di wajahku

SAAT ITULAH KU TAHU ARTINYA MATI RASA!

Ntar dulu ya say...Sabar dikit

Beberapa hari yang lalu saya ditanya seorang rekan saya penulis di sebuah majalah women lifestyle. Tentang tanda-tanda pria belum siap berkomitmen. Saya agak curiga dia sebenarnya mau mengeksplorasi saya lewat pendapat saya, tapi it's okaylah, it's worth to discuss. Bukannya apa-apa, soalnya sebagai seorang bujangan alias jomblo, apa pendapat saya akan dianggap mewakili kalangan jomblo seperti saya, atau itu nantinya hanya sebagai sebagian dari sikap para pria (bahkan untuk yang tak ingin berkomitmen tapi tetap melakukan komitmen dengan segala pertimbangan lainnya). Mungkin para pria tanpa komitmen yang berkeliaran di blog saya dapat menyatakan pendapatnya (hehehe), atau mungkin juga para perempuan yang pernah atau dapat mengenali karakter pria-pria yang tidak mau berkomitmen dapat mengomentarinya?

Saya siap dengan segala pendapat dan ingin mengetahuinya, soalnya sebagai jomblo, saya juga tidak menghendaki kesendirian seperti yang saya alami sekarang ini tapi belum bisa keluar dari kondisi ini.

Friday, January 14, 2005

Raden Mas kok disangka cina...:Jaman saya kuliah ternyata FTUI masih rasial...

Masih seputar masalah rasial yang sepertinya sedang hot, setelah diblow up si gombal, abang punya cerita yang mudah-mudahan lucu dan mudah-mudahan menghibur hati teman2 kuliah saya yang dulu tersiksa dengan tekanan rasialisme. Kalau masih menyakitkan buat teman2, abang minta maaf.

********
Sewaktu Masa Bimbingan, disingkat mabim, atau kalau mau dianalogikan dengan plonco, datanglah senior kami yang mengaku angkatan 80-an. Rasanya kok tua sekali ya, dan sangat memperhatikan kami-kami para mahasiswa baru. Belakangan kami tahu dia angkatan 1988, enam semester di depan kita.

Sang senior, yang gosipnya sudah kami dengar sangat lucu, memang mengisi acara ringan, sesi "Penyegaran" namanya. Tujuannya adalah memberi mahasiswa baru kesempatan menarik nafas setelah "disiksa". Dia datang bersama rekan satu angkatannya, mahasiswa bertampang jelas-jelas cina (maaf ya "kak", bila membaca tulisan ini, abang gak ada tendensi rasial lho).

Sang senior ini lalu dengan lantang mengkomando sebagian dari kami yang merasa sekalangan dengan si "kakak" ini agar berkumpul di depan. Lalu berkumpullah beberapa dari kami, sebagian (perempuan) menangis karena merasa terhina. Dua dari kawan2 itu ada yang disuruh berakting kungfu. Abang malah tertawa sendiri di belakang (yang ini belum abang ceritakan kepada teman2), untungnya tidak ketahuan. Soalnya pasti akan ada hukuman karena tertawa tanpa dikomando.

Mengapa abang tertawa? Bukan karena merasa acara itu lucu. Memuakkan sebenarnya.

Salah satu teman abang yang dipaksa maju ke depan itu menggunakan name tag besar warna biru, "Tomo" (nama panggilan untuk mempermudah identitas). Tahukah siapa nama lengkapnya? RADEN MAS PRIATMOJO UTOMO.

Wong priyayi ningrat jowo kok yo iso dipekso dadi cino...elah dalah....piye toh mas??

***********

NB: Abang mau nanya kepada siapapun yang benar-benar tahu atau merasa tahu, apakah ada yang dapat mengkonfirmasi kebenaran gosip lama ini, bahwa di jaman abang kuliah, tahun 1991, Dewan Guru besar UI membuat policy tak resmi pembatasan penerimaan mahasiswa non pribumi kurang dari 10%? Apakah itu masih berlaku?

Friday, January 07, 2005

Once upon a time in my life

(suara botol kecap yang dipukul dengan sendok)

ketoprak
bumbu kacang dan cabai rawit
sepotong bawang putih

potongan ketupat
sejumput toge rebus
tahu goreng setengah matang
dan tentunya bihun rebus

sedikit kecap diatasnya
taburan bawang merah goreng
kerupuk merah sudah pasti

sudah cukup lama rasanya
aku tak menikmatinya bersamamu

Rumahnya mbak hani bani
Ruang Baca Daus
tokonya mia
uneg-uneg mpokb
si tukang gombal